Langsung ke konten utama

Toxic Masculinity, Sebuah Norma Sosial yang Berdampak Buruk Bagi Mental Laki-Laki (Bagian1)

 


Apa yang ada di pikiran kalian setiap kali mendengar kata “laki-laki”? Pasti yang ada di dalam pikiran kalian adalah bahwa laki-laki itu harus macho, kuat, jantan dan lain sebagainya kan? Pandangan semacam itulah yang disebut kemaskulinan beracun atau toxic masculinity. Di dalam dunia psiklogi kemaskulinan beracun seringkali diartikan sebagai kontruksi masyarakat patriakis yang mengacu perilaku dan sikap kasar yang dikaitkan dengan seorang laki-laki. Tentu saja kontruksi semacam ini menjadi sebuah berita buruk bagi para laki-laki, karena mereka seakan-akan digiring pada syarat-syarat tertentu agar mereka bisa dianggap sebagai laki-laki atau seratus persen laki. Bagaimanapun juga, kontruksi sosial semacam ini merupakan suatu deskripsi yang sangat sempit tentang kejantanan atau maskulinitas.

Sangat menyedihkan memang ketika para lelaki harus dihadapkan dengan kontroksi sosial semacam ini. Mereka terlahir sebagai seorang laki-laki, tapi jika mereka tidak memenuhi standar-standar dari sebuah maskulinitas, maka mereka akan dianggap sebagai orang yang lemah atau laki-laki yang tidak sempurna. Sebagai contoh misalnya anggapan bahwa seorang laki-laki itu harus merokok. Teori semacam ini tentu saja sangat menyakitkan bagi para laki-laki yang berusaha untuk menerapkan pola hidup sehat dengan tidak merokok. Dengan kata lain bahwa ketika mereka berada di sebuah komunitas sosial dan mereka tidak merokok, maka mereka akan disebut sebagai laki-laki lemah. Masih banyak lagi teori kemasulinan beracun yang ada di sekitar kita. Berikut ini adalah beberapa macam toxic masculinity yang sebenarnya berdampak buruk bagi mental laki-laki.

Pertama, man is the big wheel. Istilah lelaki adalah tulang punggung bagi keluarganya adalah sebuah norma sosial yang sebenarnya menjadi sebuah racun bagi seorang pria. Bila merujuk pada istilah man is the big wheel, maka seorang lelaki itu dituntut untuk menjadi sosok yang kuat,  harus menanggung keluarganya; memiliki tujuan untuk dikagumi dan dihormati. Hal ini merupakan salah satu toxic masculinity yang merusak mental seorang pria, karena bagaimana pun juga jika kita berbicara mengenai kepribadian yang kuat, maka ada beberapa faktor yang membentuknya seperti misalnya pola asuh, pengaruh lingkungan dan lain sebagainya. Ada beberapa pria yang sedari kecil sudah dididik oleh orangtuanya untuk menjadi sosok yang lemah seperti misalnya dilarang bermain karena takut terluka, takut dinakalin dan lain sebagainya. Jika masalahnya seperti itu, lalu siapakah yang salah? Lelaki yang tidak kuat atau kedua orangtuanya yang membuat si anak lelaki tersebut menjadi sosok yanhg tidak kuat?

Kedua, boys don’t cry. Lagi-lagi seorang laki-laki itu baru bisa dibilang jantan ketika bukan hanya fisiknya saja yang kuat, tapi mentalnya, dengan tidak menangis misalnya. Hal ini juga menjadi salah satu toxic masculinity yang merusak mental seorang pria. Bagaimana pun juga, menangis itu tidak mengenal jenis kelamin. Semua orang berhak untuk menangis. Lagi pula, menangis bukanlah hal yang memalukan. Ada banyak manfaat dari sebuah tangisan seperti misalnya menangis bisa mengurangi stres, menangis juga bisa merangsang produksi endorfin dalam tubuh yang membuat kita dapat merasa lebih baik, menangis bisa membantu kita untuk mengurangi rasa sakit, dan mengurangi rasa stres. Menangis juga bisa membuat mood kita meningkat. Ketika kita menangis, kadar mangan yang ada di dalam tubuh kita bisa ikut keluar, dan lain sebagainya. Jadi jika kalian laki-laki dan kalian merasa perlu menangis, maka menangislah.

Sekali lagi, istilah bahwa lelaki itu tidakharus tegar dan tidak boleh menangis adalah bentuk dari toxic masculinity yang harus segera kita luruskan. Pria itu boleh menangis, dan itu sah-sah saja. Tidak ada hubungannya antara menangis dan jenis kelamin. Menangis itu adalah cara mengatasi kesedihan. Bukankah seiring kedewasaan seseorang, maka kita diminta untuk bisa mengatasi kesedihan kita sendiri? Seperti yang disebutkan dalam buku Cast Away Your Sadness: Seni Menguasai Rasa Sedih Yang Banyak Orang Belum Tahu. Bagi kalian yang belum tahu dan tertarik dengan buku tersebut, silakan saja klik di sini.

Ketiga, Give ‘em hell. Kita pasti sering mendengar istilah semacam itu, di mana seorang laki-laki diminta oleh masyarakat untuk tampil sebagai seseorang yang kasar, yang agresif, suka memaksa dan sedikit garang. Hal ini juga merupakan sebuah toxic masculinity yang bisa membuat seorang pria depresi. Seorang pria tidak selalu harus berperilaku kasar. Seorang pria tidak harus suka tawuran. Di luar sana, ada juga pria yang lebih suka berdiam diri di perpustakaan untuk membaca buku, menghabiskan waktu di laboratorium komputer untuk mempelajari teknik informatika dan lain sebagainya. Dunia mereka yang lebih sering berada di rumah sangat berlawanan dengan dunia para pria yang sering menghabiskan waktunya untuk beradu otot dan terbiasa dengan sifat kasar, agresif dan lain sebagainya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toxic Masculinity, Sebuah Norma Sosial yang Berdampak Buruk Bagi Mental Laki-Laki (Bagian 2 - Tamat)

Keempat,   men must be able to deal with their own problems . Kalimat ini adalah alasan mengapa di luar sana ada beberapa pria yang sering diejek ketika curhat mengenai masalahnya, “Cowok kok curhat? Cowok itu harus tegar! Nggak boleh lemah macam ini!” Tidak ada salahnya dengan mencurahkan perasaan kita atau apa yang sedang kita alami kepada orang lain. Ini bukan masalah tidak bisa menghadapi masalah, bahkan dengan curhat sebenarnya kita sedang mengatasi masalah kita sendiri. Kekesalan, emosi, kecewa dan lainnya akan meradang jika hanya disimpan di dalam hati. Hal tersebut bisa saja memicu depresi, serangan jantung dan lain sebagainya. Jadi anggapan bahwa seorang pria tidak boleh curhat itu adalah sebuah toxic masculinity yang harus kita lawan. Jangan pernah lagi katakan   “Halah, cowok kok galau urusan pacar! Cemen!”  kepada seorang pria yang sedang curhat, karena yang butuh advice atau saran itu bukan wanita saja, laki-laki juga berhak mendapatkan saran agar hidupnya ja...

Buku Self Improvement Terbaik Untuk Kamu yang Sedang Memperbaiki Diri

Setiap orang pasti butuh perubahan, butuh peningkatan. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin statis atau tidak mengalami pertumbuhan sama sekali. Orang yang tampan, pasti ingin semakin tampan. Orang yang cantik, pasti ingin semakin cantik dan orang yang sukses pun pasti ingin bertambah sukses, dan lain sebagainya. Kepribadian seseorang pun seharusnya juga mengalami peningkatan. Hanya saja, tidak semua orang memahami bagaimana caranya self improvement tersebut. Bagi kalian yang tidak tahu bagaimana caranya self improvement, berikut ini adalah beberapa buku self improvement terbaik buat kalian yang sedang bersemangat memperbaiki diri. Buku self improvement terbaik yang pertama adalah  Self-Driving: Menjadi Driver atau Passenger?  Karya dari Prof. Rhenald Kasali. Buku ini cukup menarik untuk dibaca karena lagi-lagi buku ini membuat kita terus berpikir untuk memperbaiki mindset kita. Bagaimana pun juga jika kita ingin sukses, maka kita harus mau merubah mindset kita. Ta...

Bagaimana Cara Berdamai dari Berbagai Hal yang Tidak Kamu Sukai di Dunia ini?

Dalam hidup, tidak selamanya kita bertemu dengan hal - hal yang berbau manis atau menyenangkan. Adakalanya kita harus siap menerima kenyataan yang paling pahit sekalipun. Hanya saja, dari awal kita ini sudah disetting dengan berbagai bentuk keindahan. Sudah ada mindset di pikiran kita bahwa yang manis itu selalu indah, dan hal - hal yang pahit di sekitar kita itu selalu menyesakkan dada dan tidak mengenakkan. Seseorang bisa dikatakan telah berdamai dengan kehidupannya ketika bisa menerima apapun yang terjadi di dalam hidupnya, baik atau buruk. Tapi hal semacam itu tentunya tidaklah mudah, perlu beberapa tips untuk bisa berdamai dengan kehidupan kita sendiri. Lalu bagaimana cara berdamai dengan berbagai terjadi di dalam kehidupan kita? Pertama, jika kita punya masa lalu yang buruk, maka kita juga harus bisa berdamai dengan masa lalu yang buruk kita. Lalu bagaimana cara berdamai dengan masa lalu kita? Caranya sangatlah mudah. Kita hanya cukup fokus dengan masa depan saja. Apa yang sudah ...